Senin, 15 Oktober 2012

Perjalanan ke Tempat Itu



Di hari itu,sabtu tanggal 29 september 2012 sore jam 5,aku dan 2 adikku melakukan survey tempat untuk kegiatan GLADIANSAR VIII yang rencananya akan dilaksanakan akhir tahun ini. Dan rencananya akan di laksanakan di gunung Watangan.

Di perjalanan sore itu bagiku tidak ada hal yang menarik dan istimewa. Seperti biasa,selama di perjalanan kami bercengkrama dan bercanda untuk memeriahkan sana. Tahun ini musimnya tebang jati. Jadi selama di perjalanan suasananya tidak sepi-sepi amat. Meskipun sang fajar mulai tak nampak lagi di ufuk barat,masih saja ada orang-orang berlalu lalang di hutan ini. Orang-orang tersebut statusnya sebagai buruh angkut kayu. Malahan,yang biasanya suasana hutan keadaannya gelap gulita,saat itu kami tidak perlu khawatir,karena beberapa puluh meter mulai dari bibir hutan masuk ke dalam di beri penerangan lampu listrik untuk menerangi kayu-kayu hasil tebang dan jalan setapak.

Sesampainya di camp,masyarakat menamakan cam tersebut "NGGESINGAN". Karena di situ banyak bambu Nggesing atau bambu hutan. Sambil berjalan-jalan kami mencari-cari tempat untuk membuat bivoac,tanpa sadar kami malah berjalan beberapa puluh meter dari camp hingga sampai di suatu tempat yang namanya "PLETES". Pletes adalah suatu tempat yang berupa bebatuan dengan kemiringan sekitar 40o. Di saat kami akan kembali menuju camp,tidak sengaja kami menjumpai benda-benda yang sangat tidak menyenangkan. Yang jelas bertentangan dengan idealisme kami sebagai Pecinta Alam. Benda tersebut adalah perlengkapan para pemburu untuk menjebak burung dan ayam hutan yang berupa tali serta lengkap dengan pengait dan umpan biji-bijian yang sangat di gemari burung dan ayam hutan. Tanpa banyak tanya kami pun langsung merusak dan mengambil alat-alat tersebut yang jumlahnya lebih dari 5 pasang dan pada tempat yang berbeda-beda. Setelah kami rasa tempat itu bersih dari perangkap-perangkap tersebut,kami kembali camp tadi.

Setelah kami menemukan tempat yang kami rasa nyaman untuk mendirikan bivoac,tugas dilaksanakan tanpa ada perintah. Bivoac dibuat,kopi di masak,tempat tidur di persiapkan. Ah,sekarang saatnya "santai-santai dulu" katanya bank.lozz. Lagian jarum jam masih menujukkan jam 21:30 WIB. Sebelum tidur kami ngobrol-ngobrol sebentar sambil mengganjal perut ini dengan roti dan menikmati kopi panas di malam hari. Tema obrolan kami tidak jauh dari perangkap-perangkap tadi. jika kami tidak samapai di tempat itu,kami tidak menemukan perlengkapan pemburu tadi yang menjadi ancaman kelestarian flora di gunung Watangan. Mungkin banyak yang bertanya-tanya. Kenapa KOPI tidak pernah luput dari perbekalan kami? Ya,karena kopi merupakan asupan gizi dan amunisi kami saat di gunung dan di hutan. Bagi kami tanpa kopi,tidak akan ada inspirasi. hehehe....

Jam 00:00WIB,kami mulai merebahkan diri di atas matras dan beristirahat untuk menghimpun teaga di bivoac yang kecil itu. Di pagi hari sang fajar menjadi alarm bagi kami yang membangunkan kami secara paksa untuk beranjak dari bivoac. Kami pun mulai menyegarkan diri di pagi yang cerah itu. Dengan segera bivoac kami bongkar,packing,perlengkapan masak kami persiapkan,karena perjalanan panjang telah menanti di hari itu. Selesai sarapan pagi,tepat jam 08:00 WIB,kami memulai perjalanan menuju arah dan tempat yang tak pernah kami ketahui. Di perjalanan itu,kami hanya berbekal beberapa perlengkapan darurat standar alam bebas dan yang tak pernah ketinggalan adalah insting expedisi yang kami dapat selama menjadi Pecinta Alam.

Beberapa saat melewati jalan makadam,tepat 50m dari pintu tiket wisata Watu Ulo dan Papuma,kami mengambil arah kanan dan mulai merambah masuk melewati jalan setapak di antara pepohonan jati. Panas terik matahari tak terelakkan lagi,karena di musin kemarau pohon jati meranggas atau menggugurkan daunnya untuk mengurangi penguapan,tubuh ini rasanya terbakar. Karena cuaca saat itu cukup panas untuk menyengat kulit kami. Setelah masuk cukup jauh,tujuan kami untuk menemukan hutan heterogen masih belum menampakkan hasil. Dan persediaan air kami mulai menipis karena selama perjalanan dari jalan makadam tadi kami sering minum. Planning pun sedikit di rubah. Dan tujuan kami saat ini adalah mencari mata air. Sungai-sungai kecil kami susuri,tapi sejauh yang kami lihat hanya bebatuan kering di sepanjang sungai itu.

Alhasil,tepat jam 09:30 WIB kami menemukan hutan heterogen yang kondisinya membuat kami tercengang. Di area hutan jati yang lebat itu,ternyata masih terdapat hutan heterogen atau hutan hujan tropis yang kondisinya masih lebat. Dengan dedaunan yang rimbun dan pohon-pohon yang besar-besar masih bisa di nikmati sejauh mata memandang. Kami beristirahat sebentar,terik sinar matahari pun berlahan-lahan hilang di dalam rerimbunan hutan. Perjalanan kami mulai kembali,tak lama 15 menit kemudian kami menemukan mata air yang kami harapkan. Sambil membasuh diri dan membasasi dahaga kami,planning kami susun kembali. Setelah botol-botol air yang kami bawa terisi penuh,jam 11:00 kami mulai beranjak dari tempat itu untuk memulai perjalanan lagi.

Medan yang kami lewati sudah mulai extrime berupa punggungan sempit dengan kanan dan kiri jurang yang tak terlihat dasarnya dan ranting-ranting pohon yang sudah lapuk. Dengan hati-hati jalan itu kami lewati. Sekali kami tergelincir,usai sudah cerita kami di dunia ini dan hanya tinggal kenangan. Beberapa saat setelah menembus rerimbunan dedaunan dan melewati jalan setapak yang hampir hilang karena tertutupi ranting pohon yang jatuh,dan beberapa pohon besar yang tumbang,akhirnya kami sampai di area yang lumayan datar. Di situ ada persimpangan jalan kearah kanan dan kearah kiri. Cukup lama pula kami beristirahat di tempat itu karena tempatnya sangat nyaman.

Sambil beristirahat,aku mencoba mencari jalur sendirian kearah kiri dan 2 adikku menunggu di persimpangan tadi. Setelah berjalan kurang lebih 100m,aku mendengar suara deburan ombak.Aku bertanya-tanya dalam hati "apakah aku sekarang berada dekat dengan pantai?". Dengan perasaan ingin tahu aku percepat langkahku hingga akhirnya aku sampai di area seperti tempat camp para pemburu. Dan di situlah aku bisa melihat birunya air laut dan hembusan anginnya. Tapi masih kelihatan samar-samar karena masih tertutup pepohonan. Aku terus berjalan sampai di ujung jalan setapak yang putus karena sudah tidak ada jalan lagi. Di situlah aku bisa melihat luasnya samudera Hindia dari ketinggian. Karena posisiku saat ini berada di atas tebing.

Sungguh sangat menangjubkan ciptaan yang maha kuasa. Apa yang aku lihat saat itu tak dapat aku gambarkan nilai dari keindahannya. Bukit-bukit kecil yang menjulang di tengah laut,pepohonan hijau yang menghiasi di dasar tebing tempatku berpijak,cuaca yang cerah dengan birunya langit di hiasi sang awan dan terpaan angin laut yang sejuk serta burung-burung yang seolah-olah menyapa kehadiranku di tempat itu sembari melyang-layang di udara. Tapi ada yang di sayangkan,aku hanya menikmatinya sendirian. Sementara 2 adikku masih menunggu di persimpangan tadi.

Kembalinya dari tempat yang tadi,aku hanya bisa berbagi sedikit cerita dan berjanji akan mengajak dulor-dulorku pergi kesana untuk menikmati indahnya samudera Hindia dengan meneguk hangatnya kopi di atas tebing yang tinggi,di sisi selatan pulau Jawa di suatu waktu nanti. Dan yang pasti aku akan kembali untuk membersihkan tubuhmu dari perangkap-perangkap para pemburu dan menikmati keindahan alammu.

4 komentar:

  1. Puh kok gak ngajak-ngajak aku kalau dolan.. pelanggaran HAM.. Hak Asasi Menyepi hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. mben wae sam. ngopi di tempat yang beda. hehehe....

      Hapus
  2. maz PA tenan nek iki selamat ...... menempuh jalur baru

    BalasHapus