Selasa, 26 Februari 2013

Kesadaran Harus di Biasakan



Aku bukanlah siapa-siapa
Aku sama seperti kalian,sama-sama ciptaan Yang Maha Kuasa
Aku bagian dari kalian,karena kita saling melengkapi
Aku berada diantara kalian,diantara kehidupan yang berlangsung di alam ini
Aku nyata,bukanlah fatamorgana

Tanpa Aku,kalian tidak ada
Tanpa Aku,kalian bukan apa-apa
Aku akan memberikan kehidupan untuk kalian
Aku akan memberikan nilai tambah untuk kalian di hadapan Yang Maha Kuasa

Lindungilah Aku,maka aku akan melindungi kalian
Sayangilah Aku,maka aku akan menyangi kalian
Lestarikanlah Aku,karena Aku mempunyai peranan
Jagalah Aku,karena Aku ciptaan Tuhan
Karena Aku adalah Bumi yang menopang kehidupan kalian di alam raya ini
Read more ...

Minggu, 20 Januari 2013

Adik-adik ku,Para Generasiku

Genap sudah satu dekade saya bergelut dengan Gunung dan Hutan menjadi anggota OPA (organisasi pecinta alam). Dalam waktu itu pula lah saya dan saudara-saudara saya menciptakan,mendidik serta mengajari generasi-generasi Pecinta Alam yang nantinya akan menggantikan kami untuk menjaga,melindungi serta melestarikan alam beserta isinya sebagai ciptaan Allah swt. Ya,meskipun gak sempurna yang diharapkan,yang pentaing tetap berusaha.

Awal kali saya ingin menjadi anggota Pecinta Alam sebenarnya hanya ingin mendaki Gunung tertinggi di Jawa yaitu Mahameru/Semeru. Mulai berbohong kepada orang tua,main sembunyi-sembunyi dan lain sebagainya. Memang untuk pilihan saya yang satu ini tidak mendapatkan restu dari keluarga. Ya,mana ada orang tua merelakan anaknya blusuk'an di gunung dan di hutan? Mungkin hanya beberapa orang saja.

Alhasil,setelah saya mengikuti DIKLATSAR WANAGRAHA III akhirnya saya bisa menjadi anggota Pecinta Alam yang saat itu statusnya masih SMU. Dan apa yang saya impikan akhirnya tercapai untuk mendaki Gunung Mahameru.

Tapi apa yang saya dapat tidak selesai di puncak tertinggi di jawa itu. Di balik scraft yang berwarna hijau,di dalam lambang yang bergambarkan gunung-gunungan wayang,tapak kaki dan rumah itu telah menunggu tanggung jawab yang sangat besar. Sebuah tanggung jiwab sebagai seorang Pecinta Alam. Sebuah tanggung jawab untuk menjaga,melindungi serta melestarikan alam beserta isinya sebagai ciptaan Allah swt untuk generasi dan anak cucu kita nanti.

Dari situ saya sadar,bahwa ikrar janji yang saya ucapkan di saat awal kali saya di lantik menjadi seorang Pecinta Alam telah memberikan tanggung jawab yang besar di pundak saya dengan simbol scraft untuk melestarikan alam ini. Dan juga,menjadi seorang Pecinta Alam bukan semata-mata hanya sebuah trend atau sekedar hobby saja,melainkan pilihan hidup yang melekat pada jati diri dan hati kita serta akan kita bawa samapai akhir hayat.

Dunia Pecinta Alam mengajarkan saya banyak hal. Tentang keorganisasian,olah raga dan juga persaudaraan. Dari materi Gunung Hutan sampai pentingnya arti sebuah persaudaraan,dari Konservasi hingga pencarian jati diri,dan masih banyak lagi. Apapun yang saya dapat dari semua itu,yang terpenting adalah sebuah proses pembelajaran dan juga pengamalan kepada generasi Pecinta Alam selanjutnya dan orang-orang di sekitar kita.

Tidak berhenti sampai di situ,lulus dari SMA saya dan beberapa saudara saya di ajak oleh beberapa mas-mas/senior Pecinta Alam yang statusnya adalah sesepuh Pecinta Alam Balung untuk membuat tempat bernaung bagi ex CHAPENA(sebuah KPA sebelum WACHANA didirikan),ex WANAGRAHA serta pemuda pemudi Balung dan sekitarnya yang ingin menjadi anggota dari Komunitas Pecinta Alam. Akhirnya kita mendirikan sebuah Komunitas Pecinta Alam dengan nama WACHANA.

WACHANA sendiri adalah Komunitas Pecinta Alam di Balung generasi ke IV sesudah komunitas-komunitas yang sebelumnya vakum. Tidak banyak ilmu yang saya dapatkan di organisasi saya yang ke-2 ini. Tapi yang saya dapat malah lebih besar dari materi dasar Pecinta Alam dan masih saya gunakan hingga saat ini. Yaitu makna dari sebuah persaudaraan yang baik dengan sesama manusia dan lingkunganya. Dimana kita sebagai manusia,apalagi sebagai anggota Pecinta Alam harus dan wajib menjunjung tinggi yang namanya persaudaran. Yang sesuai dengan Kode Etik Pecinta Alam no 5 dan 6. Tapi yang berbeda disini saya mendapatkan ilmu tentang persaudaraan yang sehat,yang baik dan yang sebenar-benarnya dari keadaan yang nyata.

Saya rasa pencarian saya tentang jati diri sebagai seorang  Pecinta Alam sudah usai. Dan sekarang saatnya saya mengamalkan ilmu yang pernah saya dapat dan pelajari. Dan sekarang juga saatnya yang muda untuk bersuara dan berkarya. Menjadi generasi Pengganti saya dan saudara-saudara saya unutk memikul tanggung jawab sebagai seorang Pecinta Alam.

Ingatlah saat kita terbentuk,dimana kita pergi dan dimana kita hidup,kita adalah Pecinta Alam. Jangan Pernah berfikir apa yang kita dapat dari Alam Raya,tapi berfikirlah apa yang akan kita berikan untuk Alam Raya ini serta generasi dan anak cucu kita nanti. Kalau bukan kita yang sadar akan kelestarian Alam Raya ini,lalu siapa lagi...
Read more ...

Jumat, 16 November 2012

Kau Buka Kenangan Kita

Lama tak berjumpa,dirimu menampakkan kecantikan dari hatimu. Di hari itu,saat kita bertemu di sebuah acara teman kita,sejenak dirimu membuatku tertegun karena ada yang beda dari dirimu yang dulu. Entah kenapa aku tak tahu. Apakah api asmara dalam hati ini mulai membara,atau kah memang ada perubahan pada dirimu? ah,apalah itu yang jelas kau sudah membuka kenangan kita di masa lalu.

Sejenak kita bercengkrama di Kedai itu,sedikit demi sedikit kau berikan percikan api asmara dalam hatiku. Hingga akhirnya kau meyakinkan aku untuk memilihmu sebagai seseorang yang mampu meluluhkan hatiku yang saat ini keras seperti batu. Hati ini serasa mati sejak belahan jiwaku dulu pergi. Walaupun banyak perempuan-perempuan yang datang dan pergi dari sisi,namun tak seorang pun yang mampu meluluhkanhatiku ini. Dan sekarang kau hidupkan kembali lewat kata-katamu,senyum manismu dan tatapan matamu yang seolah-olah memberikan harapan. Senyumanmu yang menggambarkan kecantikanmu,waktu ke waktu meyakinkan aku untuk selalu menikmatinya. Aku tahu,api kecil asmara itu masih ada dalam hatimu yang dulu pernah tersirat lewat kata-kata dan tatapan mata yang membuatku selalu ingin memandang wajahmu. Karena tatapan mata itu masih seperti yang dulu.

Di saat kita berbagi cerita,keinginan untuk menjadikanmu bagian dari masa depanku langsung pupus seketika. Saat kamu bercerita bahwa saat ini hatimu sudah ada yang punya. Ah,betapa kecewanya diriku ini yang sudah beberapa waktu lalu menaruh cinta di dalam hatimu. Tapi bagaimanapun,aku harus menerima itu dengan lapang dada. Karena mungkin dirimu bukanlah seseorang yang Allah ciptakan untuk menjadi bagian dari masa depanku. Perasaan menyesal dan kecewa seakan-akan tak mau pergi dari hati ini. Meskipun kau tahu apa yang aku rasakan saat ini,yang pasti dirimu tetap memilih dia dari pada aku yang dulu pernah mengecewakanmu yang tidak bisa menerka keinginanmu untuk berada di sisiku. Tapi apa daya,nasi sudah menjadi bubur.

Rasa menyesal yang begitu dalam bergejolak dalam hati ini. Kenapa dulu di saat kita punya banyak waktu untuk bercengkrama,tak ada sedikitpun terpikir olehku untuk menjadikanmu bagian dari masa depanku. Aku malah memilih seseorang yang sekarang sudah jauh dariku. Dulu kamu memang pernah memberi isyarat tentang api asmara yang tumbuh di hatimu. Tapi betapa bodohnya aku yang pada saat itu tidak bisa menerka perasaan dari seorang perempuan. Aku yang pada saat itu hanya mengandalkan ego dan emosi semata,hingga mata hati ku pun menjadi buta. Seandainya sang waktu bisa terulang kembali,pasti aku akan menjadikan kamu bagian dari masa depanku dan ibu dari anak-anakku. Tapi bagaimanapun,yang namanya penyesalan itu di belakang hari,dan waktu pun tidak bisa terulang kembali.

Untuk saat ini,aku hanya bisa berdo'a. Semoga dirimu nanti bahagia dan jadikanlah salah satu masa depan bumi ini di tangan kalian berdua.
Read more ...