Minggu, 20 Januari 2013

Adik-adik ku,Para Generasiku

Genap sudah satu dekade saya bergelut dengan Gunung dan Hutan menjadi anggota OPA (organisasi pecinta alam). Dalam waktu itu pula lah saya dan saudara-saudara saya menciptakan,mendidik serta mengajari generasi-generasi Pecinta Alam yang nantinya akan menggantikan kami untuk menjaga,melindungi serta melestarikan alam beserta isinya sebagai ciptaan Allah swt. Ya,meskipun gak sempurna yang diharapkan,yang pentaing tetap berusaha.

Awal kali saya ingin menjadi anggota Pecinta Alam sebenarnya hanya ingin mendaki Gunung tertinggi di Jawa yaitu Mahameru/Semeru. Mulai berbohong kepada orang tua,main sembunyi-sembunyi dan lain sebagainya. Memang untuk pilihan saya yang satu ini tidak mendapatkan restu dari keluarga. Ya,mana ada orang tua merelakan anaknya blusuk'an di gunung dan di hutan? Mungkin hanya beberapa orang saja.

Alhasil,setelah saya mengikuti DIKLATSAR WANAGRAHA III akhirnya saya bisa menjadi anggota Pecinta Alam yang saat itu statusnya masih SMU. Dan apa yang saya impikan akhirnya tercapai untuk mendaki Gunung Mahameru.

Tapi apa yang saya dapat tidak selesai di puncak tertinggi di jawa itu. Di balik scraft yang berwarna hijau,di dalam lambang yang bergambarkan gunung-gunungan wayang,tapak kaki dan rumah itu telah menunggu tanggung jawab yang sangat besar. Sebuah tanggung jiwab sebagai seorang Pecinta Alam. Sebuah tanggung jawab untuk menjaga,melindungi serta melestarikan alam beserta isinya sebagai ciptaan Allah swt untuk generasi dan anak cucu kita nanti.

Dari situ saya sadar,bahwa ikrar janji yang saya ucapkan di saat awal kali saya di lantik menjadi seorang Pecinta Alam telah memberikan tanggung jawab yang besar di pundak saya dengan simbol scraft untuk melestarikan alam ini. Dan juga,menjadi seorang Pecinta Alam bukan semata-mata hanya sebuah trend atau sekedar hobby saja,melainkan pilihan hidup yang melekat pada jati diri dan hati kita serta akan kita bawa samapai akhir hayat.

Dunia Pecinta Alam mengajarkan saya banyak hal. Tentang keorganisasian,olah raga dan juga persaudaraan. Dari materi Gunung Hutan sampai pentingnya arti sebuah persaudaraan,dari Konservasi hingga pencarian jati diri,dan masih banyak lagi. Apapun yang saya dapat dari semua itu,yang terpenting adalah sebuah proses pembelajaran dan juga pengamalan kepada generasi Pecinta Alam selanjutnya dan orang-orang di sekitar kita.

Tidak berhenti sampai di situ,lulus dari SMA saya dan beberapa saudara saya di ajak oleh beberapa mas-mas/senior Pecinta Alam yang statusnya adalah sesepuh Pecinta Alam Balung untuk membuat tempat bernaung bagi ex CHAPENA(sebuah KPA sebelum WACHANA didirikan),ex WANAGRAHA serta pemuda pemudi Balung dan sekitarnya yang ingin menjadi anggota dari Komunitas Pecinta Alam. Akhirnya kita mendirikan sebuah Komunitas Pecinta Alam dengan nama WACHANA.

WACHANA sendiri adalah Komunitas Pecinta Alam di Balung generasi ke IV sesudah komunitas-komunitas yang sebelumnya vakum. Tidak banyak ilmu yang saya dapatkan di organisasi saya yang ke-2 ini. Tapi yang saya dapat malah lebih besar dari materi dasar Pecinta Alam dan masih saya gunakan hingga saat ini. Yaitu makna dari sebuah persaudaraan yang baik dengan sesama manusia dan lingkunganya. Dimana kita sebagai manusia,apalagi sebagai anggota Pecinta Alam harus dan wajib menjunjung tinggi yang namanya persaudaran. Yang sesuai dengan Kode Etik Pecinta Alam no 5 dan 6. Tapi yang berbeda disini saya mendapatkan ilmu tentang persaudaraan yang sehat,yang baik dan yang sebenar-benarnya dari keadaan yang nyata.

Saya rasa pencarian saya tentang jati diri sebagai seorang  Pecinta Alam sudah usai. Dan sekarang saatnya saya mengamalkan ilmu yang pernah saya dapat dan pelajari. Dan sekarang juga saatnya yang muda untuk bersuara dan berkarya. Menjadi generasi Pengganti saya dan saudara-saudara saya unutk memikul tanggung jawab sebagai seorang Pecinta Alam.

Ingatlah saat kita terbentuk,dimana kita pergi dan dimana kita hidup,kita adalah Pecinta Alam. Jangan Pernah berfikir apa yang kita dapat dari Alam Raya,tapi berfikirlah apa yang akan kita berikan untuk Alam Raya ini serta generasi dan anak cucu kita nanti. Kalau bukan kita yang sadar akan kelestarian Alam Raya ini,lalu siapa lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar